Skip to main content

Posts

ads

Postingan terbaru

Cerpen sekolah Murid Nakal Itu Ternyata ...

 Murid Nakal Itu Ternyata ...  Aku guru baru di SD ini. Sebuah SD di pelosok desa yang sangat jauh. Meski jauh dari kota asalku, aku sangat antusias menjalani peran baru sebagai seorang pendidik. Darah guru memang mengalir deras dalam keluarga besarku.  Ayah-Ibuku guru. Paman dan Bibi dari pihak Ayah maupun Ibu juga banyak yang menjadi guru. Beberapa orang sepupuku juga telah lebih dulu memilih profesi sebagai guru.  Beberapa minggu mengajar di sini, aku sudah langsung menghadapi sebuah masalah yang menurutku pelik.  Ada seorang anak yang terkenal sangat badung. Namanya Ahmad, seorang murid kelas 6. Anehnya, si Ahmad ini berubah jadi nakal baru-baru ini saja. Sebelumnya dia sama sekali bukan anak yang bermasalah.  Menurut cerita para guru, sejak enam bulan terakhir si Ahmad sering sekali mengusili teman-temannya. Bahkan tak jarang ada yang sampai menangis karena kejahilan bocah itu. Dia juga suka membuat gaduh di kelas sehingga mengganggu proses belajar mengajar.  Karena kebadungan dan
Recent posts

Cerpen sangean Sebenarnya dia Mesum Ma! Dia sangean

"Cinta tanpa nafsu itu omong kosong! Jangan dekat-dekat sama gue. Gue sang*an," katanya terus terang dan frontal. Baru kali ini aku bertemu dengan laki-laki yang begitu terus terang. Sedikit kaget, tapi sudut bibirku terangkat sedikit.  "Lo balik deh, otak gue traveling," katanya mengambil kotak makanan dari tanganku dan menutup pintu rumahnya. Aku sama sekali tidak diberi basa-basi untuk dipersilahkan masuk dan ditawari minum.  Aku kembali ke rumahku yang berada tepat di sebelah rumahku. Sebelum meninggal rumahnya. Dari sudut mataku aku bisa melihat dia mengintip dibalik pintu.  Sungguh tidak disangka laki-laki yang sering dibanggakan dan dibandingkan mama denganku. Punya sisi yang unik seperti ini.  Keterus terangannya sungguh membuatku terkejut. Apalagi aku tidak terlalu mengenalnya secara pribadi. Hanya mendengar mama yang menggambarkan begitu sempurna.  "Gimana udah diantar?" tanya mama saat aku baru saja masuk dan menutup pintu rumah.  "Udah. Cu

Cerpen seru Mempertahankan Keperjakaan

 belas tahun yang lalu usiaku baru 13 tahun, ketika seorang pelaut membawaku ikut dengannya.  Ya, aku sebatang kara setelah bencana banjir bandang tanpa ampun meluluhlantakkan desaku. Bencana yang merenggut habis semua keluarga dan kerabatku. Pelaut itu juga berasal dari desaku. Aku dengar cerita dari orang-orang, sepuluh tahun yang lalu dia meninggalkan desa ini. Tak ada yang tahu kemana dia pergi ketika itu. Baru kali inilah dia muncul lagi. Rupanya dia tergerak pulang setelah membaca berita di sebuah media tentang desa kelahirannya yang dilanda bencana hebat. Tak berbeda denganku, keluarganya pun tak bersisa. Semua menjadi korban gulungan air bah dahsyat dini hari itu. Beberapa hari setelahnya, dia melihat aku sendirian bersedih si tenda pengungsian. "Berapa umurmu?" Tanyanya padaku.  "Tiga belas," jawabku. "Ah, tak mungkin, kau terlalu besar dan terlihat terlalu tua untuk ukuran anak 13 tahun. Tubuhmu kokoh dan bagus, cocok jadi pelaut. Mau ikut denganku? A

Cerpen seru "mati kutu."

  Cerpen "Assalamu'alaikum," ucapku ketika membuka pintu rumah. Kulihat sekeliling rumah masih berantakan, berjalan ke dapur kulihat piring masih berserak. Yang bikin bertambah emosi ketika kubuka tudung saji, hanya ada telur dadar. "Sebenarnya ngapain aja sih kerjaan si Jaenab itu," sungutku dalam hati. "JAENAAAAAAAAAB!!!!" Teriakku. "Iya, Bang. Assalamu'alaikum, udah lama pulang?" Tanyanya, kulihat ia lari tergopoh-gopoh sambil menggendong Farhan. "Sini kau!" Hardikku  "Ada apa, Bang?" "Ada apa kau tanya? Apa matamu gak bisa lihat rumah masih berantakan, apa kerjaanmu seharian ini?" "Farhan demam, Bang. Dari tadi mencret dan muntah. Ditinggal sebentar aja udah nangis, biasa juga kalau Farhan gak sakit, rumah gak pernah berantakan." "Alah, alasan aja kau ini." "Tadi aku pergi bawa Farhan ke bidan, rupanya bu bidannya lagi dinas di puskesmas. Abang kan tau rumah bidan jaraknya gak dek

Cerpen romantis CALON MENANTU IDAMAN

"Pokoknya dalam waktu satu minggu, aku harus bisa masak jengkol.” Iyut mengepalkan tangan seraya menatap wajan di atas kompor. Sebenarnya Iyut tak tahu harus memulai dari mana. Dari dulu, wanita itu tidak pernah suka kegiatan memasak. Anak kos itu bertekat belajar karena ingin mengambil hati Juleha, calon ibu mertuanya.  Iyut bersikeras menguasai resep jengkol balado, makanan favorit Juleha. Dua jam berkutat di dapur, masakan itu pun selesai. Dia mencicipi satu gigitan. “Ya Allah, keras amat nih jengkol,” gerutunya. Iyut bertanya pada tetangganya. Kira-kira apa yang salah?  “Jengkolnya direbus dulu, Yut. Kalo nggak direbus, ya memang keras.” Gadis itu manggut-manggut mendengar penjelasan si tetangga. Keesokan harinya, dia memasak jengkol sesuai anjuran tetangganya. Saat membuka dandang, dia terkejut melihat air rebusan yang menghitam. Iyut merebus jengkol tanpa mengupas kulit luarnya. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya gadis itu berhasil membuat jengkol balado yang enak. Sekaran

"KOLEKTIF'AN IBU-IBU WALI MURID"

 #cerpen_bella Berdasarkan Kisah Nyata "KOLEKTIF'AN IBU-IBU WALI MURID" Oleh. Bella Jasmine ☘️   ☘️   ☘️ Tring! Nada tanda pesan masuk pada WhatsApp group belajar daring anakku. Sejak tadi memang sudah berkali-kali berbunyi. Dengan enggan ku raih juga benda mungil yang sejak tadi ku abaikan. (Bunda-bunda ... tolong kumpulkan lagi uang kolektif, ya! Untuk Ibu Laras yang mau pindah ke luar kota. Seikhlasnya ya, Bunda-bunda!) Pesan pertama dari Ibu Lista sang wali kelas, telah ku baca. Ku scroll lagi ke bawah. (Baik, Bu. Kira-kira nominalnya berapa, ya?) Disambut pesan lain dari Mama Jaselyn, salah satu wali murid yang ditunjuk sebagai kolektor. (Kalau bisa disamakan dengan nominal kolektif yang pertama dan kedua, ya? Sekalian kolektif untuk beli hadiah kelahiran istri Bapak Oktaf ya, Bunda?) Pesan balasan dari Ibu Lista. Kolektif'an lagi! Ringisku dalam hati. Ini sudah yang keempat kali-nya dalam satu bulan ini. Total keseluruhan mencapai 80 ribu lebih.  Keadaan masih s

Cerpen teentang MUKBANG

Halo, gaesss. Jumpa lagi bersama saya, Encun Beibeh di channel mukbang syantik." Aku tersenyum manja ke arah kamera seraya mengibaskan rambut. Tak lupa mengerlingkan sebelah mata seperti biasa saat sedang menyapa viewers. Penonton live streaming hari ini lumayan banyak. Aku semakin semangat bergaya di depan kamera. "Sekarang Encun lagi ada di taman, mau nyobain bakso pedes gledek Wak Jambrong. Wak, dadah-dadah dulu, Wak." Kamera menyorot kang bakso yang lagi ngisi botol saos. Wak Jambrong melambaikan tangan sambil cekikikan.  “Wak Jambrong pasti seneng nih, warungnya didatengin cewek cantik jelita yang aduhai semlohay kayak Encun. Ya kan, Wak? Cepetan siapin baksonya, Wak. Encun sudah tak sabar pengen makan. Kalo kelamaan nanti Wak Jambrong-nya aja deh, yang Encun makan.” Wak Jambrong malah ketawa ngakak mendengar candaanku. “Di sini suasananya lumayan rame ya, gaesss. Biasanya emang taman ini banyak pengunjung. Tempatnya adem, banyak pohon, banyak bunga, banyak yang jua

Cerpen kisah nyata Tumpahan Kopi Di Baju Batitaku

# cerpen By.Tyarasani *** Bagi Ibu rumah tangga dengan dua anak balita dan batita, pekerjaan di pagi hari itu sangat menyibukankku, apalagi anak keduaku baru usia delapan bulan. Dia baru belajar merambat, namun kalau dia merangkak sering membuatku kewalahan saat menjaganya. Nara namanya, cantik bukan? Seperti biasa jika aku mencuci pakaian kotor, akan kutitipkan Nara pada Nenek, dia terlihat senang mengasuh cicitnya. Hanya saja satu hal yang tak kusukai dari nenek, saking sayangnya ia akan memberikan makanan apa saja pada Nara, seperti ice lilin, kerupuk, kue dan lain-lain. Dilema sebenarnya, bisa saja aku menunggu Nara tertidur, tetapi nenekku yang akan mencuci semua cucianku, aku tak tega, dia sudah tua renta. Kebetulan sebulan ini aku tinggal di rumah nenek, karena suamiku sedang tak bekerja, namun kami sedang membangun gubuk kecil, yang beberapa hari lagi siap di tempati. Ya, meskipun belum selesai seratus persen. "Nara, kamu belum bobo?" sapaku. Tak kulihat ada kantuk da

cerpen romantis "Jatuh Hati pada Pemilik Suara Merdu."

# cerpen romantis bikin baper # cerpen cinta romantis banget # fiksi. Setiap pagi sebelum masuk waktu subuh, suara itu selalu membangunkan ku dengan tilawahnya yang begitu merdu. Aku tidak tau siapa pemilik suara merdu itu, yang jelas Dia salah satu santri pondok yang ada di depan rumah Nenekku ini. Sejak orangtuaku meninggal Aku tinggal bersama Nenek dan Tante Mayang. Setiap pagi pemilik suara merdu itu membaca Al-Qur'an surah Al Waqi'ah lewat toa masjid pondok sebelum Adzan dikumandangkan. Suara itu mampu membuatku terjaga, menemaniku mengerjakan tugas yang belum Aku selesaikan, suara yang menenangkan juga membuat Aku kecanduan ingin selalu mendengarkan. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, padahal hampir semua temanku sudah memiliki pacar. Aku memang tidak ingin pacaran dulu, Aku harus fokus pada sekolahku. Aku baru kelas 12 SMA , waktunya fokus pada persiapan ujian. Hatiku benar-benar terusik pada suara itu. Baru tiga bulan Aku tinggal disini dan Aku juga iku

Contoh cerpen fiksi "Aku yang Baper Dia yang Minder"

 # cerpen “Sudah berhasil belum?” Sebuah notifikasi pesan di kotak masuk akun facebookku. Setelah setahun lebih menonaktifkannya, tiba-tiba saja aku iseng ingin membukanya lagi. Iseng saja, tidak ingin melakukan yang lebih, seperti menyapa teman atau menulis status. Tertanggal 2 September 2021, baru saja beberapa hari lalu, ialah Farhan mantan pacarku dulu yang mengirim pesan tersebut. Eh tunggu, bukan mantan pacar, mantan teman dekat lebih tepatnya. Teman rasa pacar, hehe. “Berhasil apa dulu nih?” aku pun iseng membalasnya. Tak disangka dia juga sedang online. “Berhasil penghasilannya? Alhamdulillah semua lancar, aku punya cukup banyak penghasilan saat ini” “Bukan itu maksudku, berhasil punya anak atau belum?” “Haha, belum” Jawabku singkat. Kami sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak 6 tahun pernikahanku. Setelah menikah, aku pindah mengikuti suami ke kota asalnya.  BACA JUGA : Ceritaku "Berdamai Dengan Fibrilasi Atrium" Video Di Ponsel Putriku cerpen fiksi TEMAN GAK AD