Catatan: Kegiatan dalam cerita ini tidak patut ditiru! Buang yang buruk dan ambil yang baik.
Dodi menghela nafasnya agar tenang. Kemudian dia berjalan masuk. Ruangan tersebut diterangi oleh cahaya lampu silau yang sesekali berkedip, letaknya di tengah. Di bawahnya orang pada berkumpul melingkari meja yang bundar. Dodi mendekat.
Mereka semua melambai-lambaikan uang ke yang lain. Suasana heboh dan mencekam. Dodi melihat seorang mayat berlumuran darah yang diseret, lalu ditumpuk ke mayat-mayat lainnya.
Di meja, Dodi menyaksikan, ada dua orang duduk saling berhadapan. Si pria berjas yang dicarinya dari tadi meletakkan sebuah pistol revolver kaliber 22 di meja, dan memutarnya. Tak lama pistol itu berhenti di pihak kanan. Penonton bersorak dan melambaikan uang.
Pria berjas mengambil pistolnya, mengisinya dengan satu peluru dan memasukkannya ke lubang. Menyisakan enam lubang yang kosong. Dia memutar silinder pengisi peluru dan memberhentikannya secara acak. Kemudian dia memberikannya ke pihak kanan. Orang itu mengarahkan pistol tersebut ke sisi kanan kepalanya. Matanya terpejam, dan tanpa rasa takut sedikitpun dia menarik pelatuknya.
“Ceklek!”
Penonton bersorak dan melambai-lambaikan uang.
Pistol kini dipegang oleh orang di pihak kiri. Dia melakukan hal yang sama sebelum mengarahkannya ke kepala. Jarinya menarik, dan…
“Dorrr!”
Suara letusan kembali memekakkan telinga dan seisi ruangan. Penonton bersorak dan melambaikan uang, dan memberikan uang.
Darah meluncur deras dari kepala si penembak. Tubuhnya terenyak lemas di atas kursi. Orang lain menyingkirkannya, menumpuknya ke jasad-jasad lain. Si pemenang mengangkat tangan layaknya seorang petinju. Lelaki bersetelan jas tadi memberinya beberapa lembar uang berwarna merah.
Doni menutup mulut dan matanya sebentar. Dia tak kuat jika harus menyaksikan hal yang seperti ini lagi. Cepat-cepat dia menarik ke belakang si pria bersetelan jas tersebut.
Dia memiliki badan gemuk dan kumis tebal berwarna putih. Tampangnya seram macam bos besar mafia-mafia. “Hey, lepaskan, Doni!”
Mereka berdiri lima meter dari meja. Semua orang mendesah karena harus menunggu.
Lelaki berjas memegang pinggangnya. “Apa lagi maumu? Hah? Kau merusak pertandingannya.”
Doni mengatupkan kedua rahang. “Apa mauku? Kau tak tahu apa mauku? Mari jangan berbasa-basi, Joko. Serahkan anakku sekarang juga!”
Joko menutup mulutnya menahan tawa. Seakan ini hal yang lucu. “Tidak mungkin, Don. Kau tak mengingat apa sepakatan kita? Kau gagal menangkap pria Amerika itu. Dan tidak akan ada imbalannya sekarang.”
Joko berpaling, namun sebelum itu Doni menarik salah satu tangannya. “Kumohon, Joko. Ak-aku tidak… Aku ingin anakku kembali.” Wajahnya memelas dan memohon. “Kembalikan anakku. Aku akan melakukan apa saja untukmu demi dia. Kemarin aku memang salah, aku gagal menangkapnya. Tapi tidak lagi.”
Joko melepas kasar tangannya yang dipegang erat. Hening sesaat. Dia berpikir keras, membolak-balikkan pandangan, menjambak rambutnya yang putih setengah botak. Dan berpaling kembali ke Doni.
“Kau memang brengsek, Don. Kau telah melakukan kesalahan besar, dan kau tidak mampu mempertanggungjawabkannya. Kalau kau bukan temanku sejak SD, sudah kutembak kepalamu daritadi.” Joko menghela nafas panjang. “Baiklah, tapi tidak ada yang gratis. Semua ada harganya.”
“Ya, ya, ya. Apapun itu asalkan anakku kembali.”
Joko menatap Doni lekat-lekat, dan memutar badan memandang orang-orang yang masih menunggu di sekitar meja. “Kau harus kalahkan satu orang.”
“Apa?” Mata Doni melotot. “Maksudku, aku harus bermain permainan gila itu? Tidak!”
Joko berjalan ke dalam cahaya bawah lampu. “Terserah padamu. Semua ada risikonya, Don. Kau harus paham itu.”
“Tap-tapi ini gak masuk akal! Ini cuma masalah keburuntungan. Ini semua sama saja dengan bunuh diri!”
Joko tak berkata apa-apa, hanya menunggu.
Doni menatap lantai bawah yang kotor, dan tanpa sadar satu tetes air mata jatuh mengenainya. Dia mengusapnya dan menegakkan badan. “Baik, aku akan melakukan ini.”
Penonton bergemuruh bertepuk tangan dan melambaikan uang. Dengan langkah kaki gontai dia mendekat. Joko mempersilahkannya duduk di kursi orang terakhir tertembak.
Jantung Doni menderu keras seperti meminta keluar. Nafasnya sesak dan untuk sesaat dia mengira manusia tak bernafas menggunakan hidung atau paru-paru.
Joko berteriak, “Siapa yang berani menantang orang ini?!”
Lalu seorang pria bertubuh kurus mengacungkan tangan.
“Sudah kuduga pasti kau, Ron. Sini duduklah. Kau memang seberani singa berbulu lebat. Keberuntunganmu takkan pernah luntur.”
Roni, lawannya duduk di hadapan. Mukanya ceking dan kurus dalam sinar cahaya lampu di atas. Dan dia menyeringai. Seringai itu berisi kepercayaan tinggi yang luar biasa. Doni semakin deg-degan. Tangannya mengeluarkan keringat menembus pori-pori.
Sementara itu, para penonton sibuk menukarkan dan mengumpulkan uang, memasang taruhan. Kemudian Joko mengangkat pistol. Hening seketika.
Joko meletakkan pistol itu di tengah meja, menatap kedua orang di kursi masing-masing yang tampak tegang, dan memutarnya.
Pistol memutar dan memutar. Dag-dug, jantung Doni berdetak. Detakannya semakin kencang seiring pistol lama-lama memelankan kecepatannya, dan akhirnya berhenti. Pistol berhenti dengan moncong yang ke arah lawan.
Penonton bersorak dan melambaikan uang.
Nafas Doni lega sedikit. Sejenak Joko memperlihatkan satu peluru, yang dimasukkannya ke dalam silinder (Tempat) peluru di pistol yang terdapat tujuh lubang. Dia memutar secara acak dan memberhentikannya tiba-tiba. Joko memberinya kepada Roni.
Roni menekan pistol di pelipis sisi kanannya. Lalu mengokang… Tidak ada rasa takut sedikitpun dari ekspresi wajahnya. Dia malah tersenyum, dan…
“Ceklek!”
Penonton bergemuruh dan melambaikan uang. Hati Doni terciut, jantung dan nafasnya kembali berfungsi tidak normal.
Sekarang giliran Doni. Joko melakukan hal sama dan memberinya pistol dengan satu peluru di dalamnya yang diputar secara acak. Tangan Doni bergetar memegang pistol itu. Dia menatap pengisi peluru seakan ingin punya mata yang tembus pandang.
Hening. Semua terdiam, fokus kepada Doni.
Doni mengangkatnya. Pistol tersebut bergetar kencang sekali sebelum dihentikan oleh pelipis sebelah kirinya. Doni memejamkan mata. Mulutnya menyengir lebar, giginya yang putih dirapatkan. Dia mengerahkan seluruh tenaganya kepada jari telunjuknya. Dan dia mulai menarik…
Jarinya terasa licin… dan dia terus menarik… pistol itu keras sekali untuk ditarik. Dia sudah berkali-kali menembakkan pistol tapi baru kali ini seberat itu.
Ekspresinya menggeram, dan akhirnya jarinya berhasil juga…
“Ceklek!”
Penonton bergemuruh dan melambaikan uang.
Doni langsung melempar lemas pistol ke meja, menarik nafas sebanyak mungkin seolah berjam-jam lamanya di dalam lautan. Suara-suara “Hah-huh-hah-huh,” dari mulutnya mengalahkan riuh penonton.
Dadanya naik-turun susah payah seperti ager-ager yang disentil. Tubuhnya basah tak tersisa. Dia telah mandi keringat.
Dia tak sanggup berbicara, tak sanggup mendongak, dia terus bernafas dan bernafas. Barusan dia seperti merasakan kematian. Mungkin peluru itu hanya berjarak dua dari yang dia tarik atau bahkan satu.
Mulutnya mual dan dia ingin sekali memuntah. Dia memejamkan mata. Hening menguasai. Lalu hening itu dihancurkan oleh suara,...
“Ceklek!”
Penonton bergemuruh dan melambai-lambaikan uang.
Dengan panik Doni membenarkan posisi badannya. Orang bernama Roni itu menyeringai penuh kejahatan. Tangannya meletakkan pistol ke tengah meja sebelum diisi lagi sama Joko.
Kenapa dia bisa secepat itu? Kenapa dia seberani itu? Apa dia tak peduli dengan kematian? Apa hidupnya di dunia ini semata-mata hanya uang sehingga tak takut jika dia mati? Pikirannya bertanya dengan sejuta pertanyaan. Dia merasa tidak adil, dia seperti melawan komputer di permainan catur.
Para penonton masih melambaikan uangnya, meneriaki musuh-musuhnya sambil berkata, “Kau akan kalah.”
Doni berpikir paling cuman dua orang dari mereka yang menaruh taruhan kepadanya. Tapi tiba-tiba punggungnya dielus-elus dan ditepuk oleh orang di belakang, berusaha menyemangati.
“Ayah.”
Doni terpaku memandang plafon ketika mendengar suara kecil itu. Suara yang bagaikan malaikat di tengah keindahan. Ya, itu tak perlu disangka, dia sangat mengenali suara tersebut. Dia menoleh ke samping, menemukan anak kecil perempuannya yang berusia delapan tahun. Dewi.
Dewi menangis tanpa suara di sana. Tangannya digenggam erat oleh Joko. Dan seketika Doni berdiri ingin memeluk, tapi badannya langsung ditahan para penonton.
“Sabar dulu, Doni. Kau harus menyelesaikan permainannya,” kata Joko santai. “Sekarang tinggal kau bisa memeluk anakmu ini, atau mati tergeletak di hadapannya.”
Doni menahan debaran jantung keras di dadanya setelah mendengar perkataan Joko. Jelas itu tak perlu diingatkan.
“Ayah,” suara Dewi semakin lirih. Tetes demi tetes air mata jatuh ke lantai yang kotor.
Joko mendorong pistol ke depannya. Doni hanya memandangi untuk beberapa saat, dan beralih ke sang anak. Ya tuhan, aku benar-benar tidak kuat.
Tangannya menjulur ke sang anak (Para penonton tidak menahannya) dan tangan Dewi ikut menjulur. Mereka berpegangan erat sekali. Dan Doni berkata, “Maafin, Ayah, nak. Maafin sudah menyakitimu.”
Dia mengerti sekali, mungkin rasa yang dirasakan Dewi jauh lebih menyakitkan daripada terhujam lima puluh peluru sekalipun.
Doni mengambil pistolnya.
Genggaman semakin erat.
Pistol itu menempel di tempat sebelumnya. Entah mengapa kali ini jari-jarinya lebih kuat. Matanya dipejam. Alisnya menukik. Keringat membasah. Dia mengokang pistol dengan jari jempolnya.
Dan dia teriak, “AAAAAAAAAAA,” jarinya mulai menarik, agak lambat, “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,” pelan, pelan, pelan, pelan, “AAAAAAAAAAAAAAAAAAA,” dan tertarik.
1
2
3
“Ceklek!”
Penonton bergemuruh dan melambai-lambaikan uang. Doni melepas genggamannya. Menaruh pistol revolver itu sampai terbanting. Semua tubuhnya kini telemas. Kepalanya menghantam meja.
Kemudian setelah lama, dia menengadah dengan susah payah, memandangi sang Anak. Dewi menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisannya diselingi jeritan dan teriakan. Sangat mengibakan.
Doni menggelengkan kepala.
Lalu entah datang darimana sebuah emosi memasuki dirinya, emosi yang bahkan tidak dimiliki siapapun. Emosi itu membuatnya menggeramkan gigi, mengepalkan tangan, mengatupkan rahang. Tidak ada lagi ketakutan. Emosi itu benar-benar menguasainya. Entah itu apa, keberanian? Tidak juga. Mungkin yang lebih benar adalah keputusasaan.
Pistol diisi lagi dengan satu peluru, diacak dan diputar, dikasih ke Roni. Roni mengokangnya, dia seperti biasa tersenyum, tapi senyuman itu perlahan hampir memudar. Tampak dia menyadari lawannya bukan sembarangan.
Pistolnya di dahi dan jarinya pun menarik, “Ceklek!”
Penonton bergemuruh dan melambai-lambaikan uang. Doni mendesah. Dia tanpa perasaan berdiri dan langsung mengambil pistol tersebut. Dia meraup bungkus peluru. Mengambil dan mengisi pistol itu dengan lima peluru. Menyisakan dua keberuntungan yang mustahil. Posisi mati lebih unggul. Lima banding dua. Hidup dan mati.
Ada hentakan keras dan histeris dari penonton. Mereka menutup mulut tidak menyangka.
Doni memutar dan mengokangnya sempurna. Siap ditembak. Tangannya mengacungkan pistol maju-mundur, “Ini liat ini. Ini kan yang engkau mau brengsek? Yang kalian semua mau? LIHAT, LIHAT INI BAIK-BAIK!!!”
Dia memejamkan mata. Meletakkan ujung pistol di samping kiri tempurung kepalanya. Suasana hening, sehingga terdengar jelas isakan tangis dari Dewi.
Mulutnya menggetar menghasilkan suara “Ekmmmm,” seperti guntur di langit yang tak tampak. Kepalanya itu ditekan kuat-kuat, orang biasa akan merasakan sakit.
Dan tidak berlama-lama dia menarik pelatuknya. Membuat memutar isi peluru.
“Ceklek!”
Tidak ada gemuruh penonton, tidak ada yang melambai-lambaikan uang. Seolah mereka semua pada baru melihat kematian yang gagal, seperti yang dirasakannya waktu pertama kali.
Dewi memecah tangisnya.
Pistol itu terjatuh dengan sendiri. Dan Doni mengangkat kepala sampai tegap. Nadanya rendah, “Itu kan yang kalian mau,” dan lalu tinggi, “BRENGSEK KALIAN SEmua.”
Doni menangis di kalimat terakhir. Dan rasa takut yang dia pendam dengan emosi itu seperti jatuh dan menimpanya begitu keras. Dia menangis dan terus menangis.
Roni mengisi peluru. Dia tampak tak mau kalah. Dia mengisinya dengan enam peluruh. Tujuh banding enam. Menyisakan satu yang kosong.
“Hey, Roni kau bodoh,” kata salah satu penonton.
“Roni, jangan! Jangan idiot,” kata penonton lainnya. Terus begitu dan kurang lebih kalimatnya tak jauh beda. Semua berkata bahwa dirinya bodoh.
Tapi Roni berucap, “Jangan meremehkanku. Ini soal yang gampang. Bukan hanya dia yang bisa.”
Baru kali ini Doni melihatnya memejamkan mata. Tidak ada senyum di ekspresinya. Wajahnya merah sebagian. Pistol di dahi kirinya itu seakan sudah meledak. Dan dia menarik…
“Dorrr.”
Ada bunyi bergemerincing jatuhnya pistol ke lantai. Kepala itu terlemas ke samping, dan lama-lama badannya juga, dan dia terambruk ikutan jatuh. Kucuran darah menetes sangat deras. Tercecer bagaikan sapi yang disembelih.
Doni, dia langsung memeluk anaknya. Memeluk seerat mungkin. Dan menatapnya lamat-lamat, menyingkirkan rambut anaknya yang menutupi penglihatan. “Sudah, cukup, Ayah gakpapa. Lihat, kan? Ayah gakpapa sama sekali, Ayah baik-baik saja.”
Dewi memukul-mukul bahu sang Ayah berkali-kali. Dan kembali memeluknya.
“Maafin, Ayah. Ayah minta maaf.”
Doni bangkit berdiri, menatapi seisi ruangan. Habis itu barulah mereka bergemuruh dan melambai-lambaikan uang, mengumpulkan uang. Sejenak dia memandang Joko dengan ragu, hanya sebentar. Tidak, ini sudah selesai.
Dia menggandeng telapak tangan Dewi cepat-cepat, dan bersama-sama melangkah keluar ruangan. Tapi lima meter dari pintu keluar.
“Dorrr.”
Bunyi ledakan pistol meraung di ruangan. Darah membasahi celana Doni. Dia berbalik, “Kenapa kau menembak kakiku?”
Joko tersenyum dan tertawa sekali. “Aku menyukaimu, Doni. Kau hebat.”
“Ayah, Ayah gakpapa?” Wajah Dewi terpanik.
“Ya, ya Ayah gakpapa.” Dia menyeret kaki kanannya yang terkena tembak. “Ayo kita pulang dan keluar dari sini.”