Dikutip dari kisah nyata.

 #cerpen

Note: Dikutip dari kisah nyata.

Hari itu, November 2012. Ini adalah hari di mana kami punya rencana untuk kegiatan bakti sosial. Bersama sebuah klub motor, aku berangkat ke lokasi dengan perasaan semringah. Bagaimana tidak, orang yang membawaku melaju itu adalah ponakanku yang sudah aku anggap seperti anak sendiri.
Dia Yunan. Sudah empat tahun ini kami menjalin hubungan erat bersama. Asam, manis, pahit, bahkan kecut sudah kami rasakan semenjak 2009 lalu.


Foto oleh Felipe Cespedes dari Pexels
Aku begitu terkagum dengan sosok anak lanang yang perawakannya ideal itu. Semenjak Yunan tinggal di rumah, dia yang selalu membuatku tersenyum. Selalu mengantarku pergi bekerja, begitu pun jika waktu kerja telah usai. Rekah senyumnya pasti yang akan menyambutku di parkiran.
Rem itu dipijaknya, sempat dia menoleh padaku. "Sudah sampai, Om. Om tidak apa kan? Sehat kah?" Begitulah ucapan yang dilontarkannya bersama tatapan hangat.
"Om bisa dong. Tua-tua begini, masih kuat loh." Aku menatapnya dengan senyum.
Dia melepaskan helmnya. "Haha. Kalo capek, istirahat aja yah."
Semenit berlalu, setelah kami mendengar arahan dari ketua klub, kami pun memulai kegiatan. Sebenarnya aku bukan bagian dari anggota klub itu, melainkan Yunan. Aku saja yang selalu menggerutu jika tak diizinkan untuk ikut. Mumpung aku juga libur, dari pada bosan di rumah tak ada teman, pikirku lebih baik ikut saja.
Kami pun beranjak dari tempat berkumpul, ke lokasi di mana kami akan action. Ada banyak kegiatan yang kami lakukan, mulai dari membersihkan lapangan, menyusuri selokan, hingga acara bagi-bagi lima ratus porsi nasi kotak itu membuat tenagaku sedikit terkuras. Maklum sudah renta, ingin banyak bergerak cuma terhalang usia. Ibarat sebuah baterai ponsel, punyaku sudah bocor.
"Om, nggak apa-apa?" tanyanya dengan lembut. "Om duluan saja yah. Acaranya juga masih lama." Begitu pintanya, tepat pukul sembilan pagi.
Pikirku, ah nanggung. Mana mungkin aku harus pulang lebih dulu sedang kami perginya berbarengan. Terlalu egois jika diriku menuruti permintaannya.
"Hehe, Om ini udah letih kerja. Mana mungkin pulang lebih dulu sedang belum dapat nasi kotak." Aku sekadar bergurau, padahal maksudku ingin pulang jika kegiatannya selesai.
"Oke. Aku mintakan dulu nasi kotaknya, lalu Om pulang saja yah?"
Aku sedikit melotot. Anak ini begitu polos. Mana mungkin aku serius dengan perkataanku soal nasi kotak.
"Eh jangan!" celetukku. "Kamu tuh yah, selalu saja berpikir serius. Om hanya bercanda. Mana mungkin Om pulang lebih dulu sedang kita pergi sama-sama." Aku sedikit mengetuk kepalanya.
"Au," celetuknya setelah tanganku mendarat di kepalanya. "Yasudah. Om istirahat saja. Biar kami yang urus."
"Nggak. Om mau bekerja. Kamu nggak bisa larang," tukasku ngotot.
Dia kehabisan akal lagi untuk membuat aku menurut. Lagi pula, aku masih kuat untuk melanjutkan. Mengapa harus berhenti hanya karena aku ini sudah tua.
Kami pun melanjutkan kegiatan. Hingga di penghujung kegiatan, tepatnya bagi-bagi sembako. Kresek yang kupegang adalah kresek terakhir dari lima ratus kresek yang kita punya.
"Itu untuk Om saja!" ucap ketua klub.
Aku menatapnya dengan tersenyum. "Anak muda seperti ini yang dibutuhkan negeri," batinku. "Beneran nih?"
"Bener, Om." Dia sejenak memejamkan mata, pertanda serius dalam ucapannya.
Aku membawa kresek itu ke motor. Sontak Yunan menyenggol lenganku.
"Om, ini nasi kotaknya."
Aku berbalik, kaget tiba-tiba saja dia memberikan nasi kotak. "Eh, Om juga dapat?" ucapku basa-basi. Padahal saat itu aku mendambakannya, sebab sedari tadi perutku melakukan konser.
"Semuanya dapat, Om. Ini punya Om." Dia menyodorkannya sekali lagi, sembari tanganku meraihnya.
Kami duduk di bangku taman dekat parkiran. Sementara para anggota, terlihat berada di tribune lapangan. Setelah duduk, aku membuka nasi kotak itu dengan penuh gairah. Tampak sayur kangkung, ayam goreng saus rica, dan juga telur berukuran besar siap disantap.
"Ih, ada telur. Buat kamu yah?" Aku mengambil telur besar itu, lalu kuletakkan di nasi milik Yunan. Aku tak makan telur, sebab alergi. Aku juga menambahkan sedikit nasi milikku padanya, karena untuk porsi nasi kotak saat itu bagiku terlalu banyak.
Setelah usai makan, kami masih beristirahat sejenak lalu berangkat. Apesnya, saat itu motor Andri mogok, hingga membuat kita sesaat berputar otak. Yunan menganjurkan untuk dia mengantar Andri yang motornya mogok itu. Yunan meminjam motor Rein, sebab motornya tak mampu menempuh perjalanan jauh.
Kami pun sepakat. Rein mengantar aku ke rumahnya memakai motor Yunan, sementara Yunan mengantar Andri menggunakan motor Rein. Kami berpisah di perempatan jalan. Kami ke selatan, sedangkan Dimas ke utara.
Aku dan Rein menyusuri jalan pulang dengan tiada cakap sewaktu itu. Beda dengan Yunan, walaupun telinga kami diterpa angin atau tertutup helm, sesekali dia mengajak bercerita walau hanya menanyakan kabar saja.
Sesampainya di rumah Rein, aku menunggu Yunan dengan penuh khawatir. Pasalnya, sudah satu jam lebih dia belum kembali juga. Dia tak biasanya begini. Dia adalah anak yang begitu disiplin. Jika terlambat, pasti dia akan memberi kabar. Selalu begitu.
Aku mencoba meneleponnya. Namun, tidak ada respons. Teleponnya tak diangkat.
[Nak, kamu di mana? Hati-hati di jalan! Sayang? Nak? Kamu di mana? Hati-hati di jalan! Sayang? Kamu di mana? Hati-hati di jalan!]
Begitulah ketikan beruntunku pada pesan di aplikasi hitam dan pesan seluler. Aku begitu cemas jika terjadi apa-apa padanya. Namun, tetap sama saja. Pesan itu sia-sia, dia tak membalasnya.
Beberapa menit pun berlalu. Sontak ponselku berdering, terdengar nada telepon.
"Hallo? Bapak? Saya polisi. Cepat ke sini. Anak Bapak mengalami kecelakaan." Begitu ucapan serak-serak basah yang kudengar melalui telepon.
Tanpa berucap apa-apa, aku langsung memanggil Rein. Sebelumnya aku mendengar nama rumah sakit, tetapi aku berpikir mungkin Yunan masih ada di polsek. Kami pun pergi mencari polsek terdekat dengan perasaan khawatir. Benar saja, kami mendapat informasi mengenai laka lantas kala itu.
Kami pun langsung menuju rumah sakit. Tepat di depan gerbang, aku melihat mobil polisi berada di parkiran.
Aku berlari ke ruang UGD. Tepat di dalam ruang UGD, Yunan terbaring hampir tak berdaya. Tampak darah keluar dari mata, hidung, dan telinga Yunan. "Kamu kuat. Om nggak marah sana kamu. Ini kecelakaan. Tenang saja. Kamu pasti kuat kok. Semangat." Aku berbisik, menatap matanya yang sayu itu. Sekadar menyemangati untuk tetap kuat.
Karena pasien tak memenuhi syarat, akhirnya Yunan dipindahkan ke rumah sakit pusat. Tepat pukul setengah sebelas malam kala itu, aku diminta beberapa orang dari klub motor untuk pulang saja. Katanya besok baru kembali lagi. Bodohnya aku, mau-mau saja. Aku pulang, dengan perasaan sendu setelah kami berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Beberapa anggota juga ikut pulang.
Pukul dua belas malam, teleponku berdering. Seseorang dengan rendahnya berucap, "Om, Yunan sudah tiada."
Mendengar ucapan tersebut, aku sama sekali tak bergeming. Sama sekali tak mengeluarkan air mata. Telepon kumatikan, lalu kuhubungi beberapa anggota untuk berkumpul di rumah. Kami berangkat. Setelah sampai di ruangan, barulah tangis pecah. Semuanya menangis menatap Yunan si sosok periang, baik, perhatian, dan tak ngadi-ngadi itu. Semuanya merasakan kehilangan. Termasuk aku yang sudah menghabiskan empat tahun bersamanya dalam satu atap.
Enam bulan semenjak kejadian itu, aku sempat jatuh sakit karena kecapaian psikis dan psikologis. Makan tak teratur, pergi pulang kantor dengan hampa, begitulah keadaanku. Bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Yang menguatkanku sampai sekarang adalah ucapannya, "Om kuat, Om hebat."
Ah. Begitu panjang ceritanya, aku tak bisa menjelaskan dengan rinci. Hatiku begitu ringkih untuk mengingat peristiwa itu. Di usiaku yang telah menginjak 54 tahun ini, kuhabiskan dengan bersyukur masih diberi umur untuk menikmati kehidupan. Semenjak kehilangannya, aku berusaha untuk menghindari tempat-tempat seperti kafe, warkop, warung makan, bahkan taman yang selalu aku lewati bersama ponakanku yang sudah aku anggap sebagai anak. Sebisa mungkin aku hindari.
__END
BAWANG KAMPONG

Assalamu'alaikum? Nama saya adalah Muhammad Nasir, umur 30 dan saya kelahiran kota langsa, aceh

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama