Kenangan Manis.

 Kenangan Manis.

Cerpen

Dulu, saat Almarhumah ibu masih ada, beliau sangat suka makanan yang serba manis. Bahkan setiap makan nasi dengan apapun, selalu ditambahkannya kecap manis, entahlah?
Aku sempat protes bahkan setengah meledek.

"Apaan makan nasi harus manis, udah aza bikin bubur manis, atau bikin kolak sekalian," kataku.
Habisnya suka repot, kalau mau makan tidak ada kecap, Ibu ga jadi makan. Atau mesti ke warung dulu, beli kecap eceran, maklum...kami orang ga punya jadi ga pernah stok belanjaan.


Foto oleh Yuting Gao dari Pexels

POSTINGAN POPULER:

Dengan tenang, kemudian Ibu memberi alasan atas ucapanku itu.
"Makan yang manis itu bikin perut cepat kenyang," se simple itu?
Aku memutar bola mata dengan malas.

Waktu terus berjalan, dan kebiasaan Ibu tak bisa dihentikan. Bahkan...jika kopi hitam bekas Bapakku yang tinggal ampasnya pun, sama Ibu suka ditambahin gula lagi, kemudian diseduh lalu diminum olehnya.
Ibu ga berani kopi langsung, katanya suka perih di lambung. Kecuali kopi susu, dan itupun selalu ditambah gula lagi.

Singkat cerita...aku beranjak dewasa, menikah, kemudian merantau ke kota.
Setiap pulang, tiap ku tanyakan ingin oleh-oleh apa, Ibu selalu pesan martabak manis.
Sebenarnya...semasa aku masih gadis pun, tiap aku keluar rumah, pasti aku bawakan martabak manis kesukaannya.
Memang ga ribet...tapi kadang bosan beli itu terus.

Bingkisan tiap datang, aku sekalu bawain susu, gula, teh dan kecap. Ibu sangat terharu bila dikirim itu olehku. Disimpannya baik-baik, buat stok katanya, aku hanya tersenyum melihat nya.
Yah...saat itu Ibu seperti kembali ke masa kanak-kanak, dan aku memaklumi sikapnya itu.

Satu waktu, aku pulang rada maleman. Berhubung saat itu aku kerepotan bawa anak dan juga tas pakaian, aku jadi ga sempat untuk jalan-jalan dulu mencari martabak.
Bus yang ku tumpangi berhenti pas di depan tukang donat dan pukis.
Aku langsung pesan makanan itu dengan terburu-buru, karena sudah ditunggui angkot terakhir ke desaku. Suamiku saat itu tidak ikut pulang, karena ada pekerjaan.

Sekitar empat puluh lima menit, aku sudah sampai dirumah Ibu. Alhamdulillah beliau belum tidur pas aku datang, padahal aku ga ngabari terlebih dahulu.

Nah, saat aku memberikan oleh-oleh, terlihat gurat kecewa di wajahnya.

"Kenapa, Bu?" tanyaku.
"Kirain bawa martabak," jawabnya setengah merajuk.

Aku minta maaf, sambil memberikan alasan, rasa bersalah terselip dalam hati. Apalagi saat itu kondisi Ibu memang sedang sakit.

"Ya udah, kalau Ibu ga mau, kasiin si Teteh aza ya!" kataku.

"Bagi dua aza," jawabnya. Aku tersenyum mendengarnya. Lalu makanan itu ku bagi dua, dan ku kirimkan ke kaka iparku, yang rumahnya berdampingan dengan Ibu.
Selain martabak manis, dan makanan yang manis-manis lainnya, permen pun tak luput dari koleksi dikantong Ibu. Bahkan, setial mau berangkat ke pengajian, permen salah satu barang yang wajib dibawanya.

Itulah, kenangan manisku tentang Ibu.
Sewaktu Ibu sudah tiada, aku sering bersedekah dengan cara membagi permen setiap hari lahirnya beliau. Memang harganya tak seberapa, aku hanya ingin rejekiku mengalir untuk Ibu.

Kini...aku pun jadi suka makanan yang manis-manis, termasuk minuman.
Dulu aku tak suka kecap, sekarang jadi doyan.
Minum susu, jadi minuman rutin, bahkan cemilan pun suka yang manis.
Hanya aku tidak maniak dengan martabak, karena itu terlalu manis dan bikin pening kalau makannya banyak.
Tapi...anak bungsuku, dia paling doyan sama martabak, seperti Almarhumah Ibu. Satu dus martabak bangka coklat keju, bisa abis sama dia sendiri.

Mungkinkah makanan favorit Ibu, menurun pada anakku?
BAWANG KAMPONG

Assalamu'alaikum? Nama saya adalah Muhammad Nasir, umur 30 dan saya kelahiran kota langsa, aceh

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama